Rabu, 03 November 2010

Pulau KOMODO

Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.

Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.

Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.

Sejarah mengapa adanya Pulau Komodo:

Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita ini berawal dari Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.

Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis "New Seven Wonders of Nature" yang baru diumumkan pada tahun 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com

Teater Imax Keong Emas


Teater Imax Keong Emas berbentuk keong raksasa, merupakan tempat pemutaran dan pertunjukan film khusus dengan teknologi canggih, didirikan atas prakarsa lbu Tien Soeharto, dan mulai dioperasikan pada tanggal 20 April 1984.

Gedung teater yang sangat khas ini dimaksudkan sebagai sarana rekreasi yang mendidik guna memperkenalkan kekayaan alam dan budaya bangsa melalui tanyangan film layar raksasa dengan menggunakan kecanggihan teknologi sinematografi modem Proyektor IMAX.

Menonton film di teater ini, penonton serasa ikut berada di dalamnya dan ikut pula berperan sebagai pemain.

Teknologi film imax menunjukkan kecanggihan dan kemampuannya untuk menimbulkan daya tarik kuat yang membuat penonton berdecak kagum.

Beberapa film tersedia untuk diputar, antara lain film Indonesia Indah I, Indonesia Indah II (Anak-anak Indonesia), Indonesia Indah III (Indonesia Untaian Manikam di Khatulistiwa), dan Indonesia Indah IV (Aku Bangga Menjadi Anak Indonesia). Semuanya menunjukkan keindahan lingkungan, kekayaan alam, dan keragaman budaya Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya pemutaran film tidak hanya menampilkan film-film seri Indonesia Indah saja, namun juga diselingi pemutaran film-film impor yang bernuansa pendidikan dengan tema-tema hiburan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tema-tema lingkungan hidup. Sejak tahun 1984 Teater Imax Keong Emas telah memutar 20 judul film impor dengan masa sewa antara 1 dan 2 tahun. Film-film itu antara lain To Fly, Speed, Blue Planet, The Living Sea, Forces of Nature, T-Rex, The First Emperor of China, Island Adventure, dan Mistic India. Pada tahun 2004, teater ini mampu meng-upgrade sistem dan sekaligus memutar film IMAX DMR (Digital Re-Mastering), yakni teknologi revolusioner yang memungkinkan transfer film laga format 35 mm ke dalam IMAX EXPERIENCE 70 mm.

Anjungan Bangka Belitung

Dahulu wilayah ini merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, namun kemudian menjadi provinsi ke-31 dengan Pangkal Pinang sebagai ibukota berdasarkan UU No. 27 tahun 2000. Provinsi Bangka Belitung memiliki luas wilayah 81.725,14 km², terbagi menjadi enam kabupaten dan satu kotamadya, yakni Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Timur, Kabupaten Belitung, dan Kotamadya Pangkal Pinang.

Wilayahnya terdiri atas dua gugus pulau besar dengan 254 pulau-pulau kecil di sekitarnya yang menawarkan wisata bahari menakjubkan, bahkan keindahan alam pantainya dinobatkan sebagai yang terindah se Asia Tenggara. Selain kekayaan alam yang berasal dari laut, Bangka memiliki hasil tambang timah yang sudah terkenal sejak lama.

Penduduk asli adalah orang Bangka dan Belitung. Mereka berbahasa Melayu. Pada masa kolonial, Belanda mendatangkan tenaga buruh kontrak dari Cina untuk dipekerjakan di pertambangan timah. Setelah kontrak selesai, para buruh kontrak menetap dan terjadi perkawinan dengan penduduk setempat. Perkawinan campuran itu menghasilkan keturunan Cina peranakan.

Sejak abad ke-7 Pulau Bangka sudah disinggahi orang Hindu dari Siantan, Johore, Malaysia, kemudian juga bangsa Belanda, Inggris, dan Jepang. Tapak-tapak sejarah yang ditemukan antara lain klenteng Cina tua, rumah-rumah tua kolonial, benteng berikut mercusuarnya yang dibangun semasa Gubernur Jenderal Raffles (1812-1817).

Kekayaan budaya Provinsi Bangka Belitung antara lain upacara-upacara yang berkaitan dengan ungkapan syukur dan doa permohonan sebelum turun ke laut dan upacara pernikahan masal pada saat panen raya lada putih oleh masyarakat Bangka Selatan.

Anjungan Bangka Belitung akan menampilkan bangunan induk berarsitektur rumah Melayu yang banyak dijumpai baik di Pulau Bangka maupun Pulau Belitung. Di dalam bangunan ini akan dipamerkan berbagai benda budaya dan sejarah, antara lain pakaian adat, alat kesenian, peralatan rumah tangga, dan berbagai hasil kerajinan tangan.

Anjungan Kalimantan Barat

Anjungan Kalimantan Barat menampilkan tiruan Istana Kadriah (istana sultan Pontianak), rumah betang atau rumah panjang (rumah adat Dayak), tiruan tugu katulistiwa, ulambu—bangunan kecil untuk menyimpan peti mayat (lungun)—beserta sanding atau toras (tonggak kayu balian sebagai tempat penguburan tengkorak dan tulang manusia yang telah meninggal), serta miniatur bandong dan lanting atau rumah-perahu (perahu yang sekaligus menjadi tempat tinggal).

Bangunan asli istana sultan Pontianak didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tahun 1771, terbuat dari kayu, dan dicat kuning. Di depan istana terdapat balkon yang merupakan tempat bagi sultan memberi amanat kepada rakyatnya.

Ruang Istana Kadriah di Anjungan Kalimantan Barat digunakan untuk tempat pameran hasil industri kerajinan seperti anyaman, keramik, kain, batu alam, pakaian adat, alat tenun, dan alat musik. Di dalam bangunan ini dapat disaksikan juga peragaan yang menggambarkan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri duduk di singgasana didampingi permaisuri Utin Chandra Midi menyaksikan tari jepin bersama dua menteri beserta istri masing-masing; sejumlah peralatan istana—meliputi bendera, tombak, payung kuning, meriam kecil, dan gamelan; hasil kerajinan tenun dan anyaman; serta hasil bumi, seperti rotan, kayu cendana, dan pasak bumi.

Rumah betang atau rumah panjang merupakan rumah untuk beberapa puluh keluarga sekaligus, akan bertambah panjang jika ada keluarga baru, kadang mempunyai 40 sampai 60 pintu atau sejumlah kepala keluarga yang mendiaminya. Tinggi tiang rumah sekitar tiga sampai lima meter di atas tanah, untuk menghindari serangan musuh dan binatang buas. Tangga rumah berupa sebatang kayu bulat sebagai injakan atau jenjang. Bangunan dibagi dua memanjang, yakni ruang tertutup berpetak-petak dan tanjuk atau jungkat yang merupakan ruang terbuka.

Ruang tertutup merupakan bilik keluarga, tempat tidur gadis, dan tempat menerima tamu wanita atau tempat tidur tamu wanita di malam hari bagi yang baru menikah atau punya anak; pada saat upacara perkawinan digunakan untuk upacara peminangan dan tempat menerima mempelai pria atau wanita oleh orang-orang tua. Di belakang ruang tidur ada dapur untuk memasak. Ruang terbuka digunakan untuk menerima tamu laki-laki, musyawarah kampung, dan tempat makan atau minum tuak pada upacara perkawinan; terdapat bale-bale memanjang setengah lebar rumah untuk tempat tidur para pemuda dan tamu laki-laki yang menginap; terdapat ruangan terbuka memanjang tak beratap untuk menjemur dan menumbuk padi, menjemur pakaian, serta tempat melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk tempat anak-anak bermain.

Sejumlah ruang rumah betang di Anjungan Kalimantan Barat digunakan untuk pameran dan peragaan hasil kerajinan, seperti anyaman, sumpitan, guci, damak atau anak sumpitan, mandau, perisai, tutup kepala wanita (saraung palilit), dan peragaan pemuda Dayak dalam pakaian perang dan pemudi dalam pakaian adat.

Selanjutnya, pada bagian kolam dapat disaksikan peragaan yang memperlihatkan miniatur rumah terapung (lanting) yang terdapat di sepanjang sungai Kapuas dan Sambas, kapal motor (bandong) yang berfungsi sebagai alat transportasi dan tempat tinggal, serta tugu katulistiwa.

Halaman anjungan ditanami berbagai tanaman khas Kalimantan Barat, antara lain durian, balian, tengkawang, meranti, ketapang, damar pilau, dan jelutung. Pada hari Minggu dan hari libur, Anjungan Kalimantan Barat menyuguhkan aneka tari tradisional.

Anjungan Nangroe Aceh Darussalaam


Anjungan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menampilkan dua rumah adat sebagai bangunan induk, lumbung padi (krueng pade), penumbuk padi (jeungki), tempat kumpul (bale), langgar (meunasah), panggung pergelaran, pesawat Dakota RI 001 Suelawah, toko cenderamata, dan bangunan kantor.

Bangunan induk pertama adalah rumah adat Aceh Besar (rumoh Aceh), berupa rumah panggung 2,5 sampai 3 meter di atas tanah. Rumah ini terbuat dari kayu dan ditopang empat deret tiang kayu bulat yang berjarak sama sehingga membentuk segi empat. Salah satu ciri rumah adat Aceh adalah pintu yang berada di lantai rumah, dibuka ke atas, dan dihubungkan oleh tangga yang diletakkan di kolong rumah. Meskipun demikian ada yang membuat pintu menghadap ke halaman dengan tangga di pinggir lantai.

Rumoh Aceh pada umumnya terdiri atas tiga ruangan: serambi depan (seuramo keue), berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat mengaji, dan tempat tidur anak lelaki; ruangan tengah (jureu), memiliki dua bilik: rumoh inong yang berfungsi sebagai kamar tidur kepala keluarga dan ruang anjong untuk kamar tidur anak gadis; serta serambi belakang (seuramo liekot) yang berfungsi sebagai dapur dan tempat makan keluarga.

Bangunan ini dipergunakan sebagai ruang peragaan berbagai aspek budaya dan adat istiadat 18 kabupaten dan 5 kotamadya, antara lain pelaminan dengan motif sulaman khas Aceh, tempat tidur berkelambu, senjata tradisional, alat perlengkapan rumah tangga, alat penangkap ikan, kerajinan anyam-anyaman, dan foto dokumentasi perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda, termasuk para pahlawannya.

Bangunan induk kedua adalah rumah asli pahlawan wanita Aceh, Cut Meutia, yang dipindahkan dari tempat asalnya ke TMII; sampai sekarang rumah bersejarah ini masih anggun dan berdiri kokoh meski telah berumur 175 tahun. Keunikan arsitekturnya terletak pada jendela—yang juga berfungsi sebagai ventilasi—berupa lubang-lubang sela ukiran di seluruh dinding. Pintu rumah panggung bertiang 16 ini berada di lantai rumah dengan daun pintu membuka ke atas, sehingga harus menggunakan tangga untuk masuk. Konon, pintu ini dibuat karena alasan keamanan.

Baik rumoh Aceh maupun rumah Cut Meutia beragam hias ukir tetumbuhan—seperti bungong meulu, bungong jeumpa, dan bungong mata uroe—pada dinding, pintu, tulak angin, jendela, dan beberapa bagian lainnya. Warna ukiran disesuaikan dengan warna dasar bangunan. Ukiran motif awan beriring (canek awan), lambang kesuburan, terdapat pada tangga, dinding, dan ruang tengah. Pada bagian atas pintu terdapat kaligrafi, sedangkan tulak angin dan dinding atas dengan ukiran keurawang bermotif sulur-suluran, selain untuk keindahan juga sebagai ventilasi. Kebanyakan ukiran hiasan rumah Aceh tidak mengandung lambang tertentu, melainkan sebagai unsur keindahan saja.

Pesawat terbang Dakota dengan nomor RI. 001 Seulawah, sumbangan rakyat Aceh sebagai bukti ikut dalam perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan, dipajang di halaman.

Panggung terbuka di sebelah kiri anjungan digunakan untuk pergelaran berbagai seni tradisional, seperti Saman dan Seudati, terutama pada hari Minggu dan libur. Sesekali kesenian langka, seperti Pe Em Toh, didatangkan langsung dari daerah; di samping duta seni dari daerah untuk peragaan upacara adat pada kegiatan Paket Acara Khusus yang biasanya berlangsung setahun sekali.

Anjungan NAD pernah dikunjungi beberapa tamu negara, seperti perdana menteri Selandia Baru, duta-duta besar Pakistan, Malaysia, Philipina, Muangthai, dan India.

Anjungan Bali

Bali juga disebut Pulau Dewata karena alamnya yang indah dan banyak pura tempat persemayaman para dewa.

Sebagian besar penduduk Bali memeluk agama Hindu. Agama Hindu mengenal banyak Dewa sebagai manifestasi Tuhan Yang Mahaesa (sang Hyang Widhi Wasa) di dalam melaksanakan kekuasaan yang tak terbatas atas alam semesta.

Anjungan Bali tampil dalam bentuk lingkungan perumahan tradisional Bali di atas tanah seluas 8.000 m2, ditata berdasar pola arsitektur tradisional yang bersumber pada Lontar Astha Kosala-Kosali yang di dalamnya mengandung falsafah tri hita karana. Bangunan model puri, dibatasi tembok keliling (penyengker). Pintu gerbang berupa candi bentar diapit patung Hanoman dan Hanggada dari epos Ramayana sebagai penolak bala. Di depan candi bentar terdapat bale benggong yang berfungsi sebagi tempat istirahat dan bersantai sambil melihat suasana sekitar, karena itu letaknya lebih tinggi dan berbentuk panggung. Kemudian ada bangunan sanggah penunggu karang tempat persembahan sesaji kepada Banaspati agar wilayah jaba tengah terlindung dari marabahaya. Di sisi timur terdapat bale wantilan/pengambuhan sebagai tempat kegiatan masyarakat, seperti rapat bulanan, pertemuan muda-mudi, latihan menggamel dan menari sekaligus sebagai tempat pentas. Di sisi barat terdapat bale paruman sebagai tempat musyawarah keluarga dan untuk mempersiapkan sesaji menjelang upacara keagamaan. Bale paruman di Anjungan Bali difungsikan sebagai tempat penjulan benda-benda kerajinan khas Bali.

Sebagai pemisah ruang jaba dengan ruang dalam berdiri kori agung, yaitu sebuah pintu untuk para tamu agung. Di sisi kanan-kiri kori agung terdapat patung Laksmana dan Rama sebagai lambang keramahtamahan dan kebijaksanaan. Pada bagian atas pintu terdapat patung Kala Boma dengan wujud menyeramkan sebagai lambang kesuburan. Di balik kori agung terdapat bale aling-aling; dulu berfungsi sebagai tempat membaca Weda tetapi sekarang menjadi tempat belajar.

Di sebelah kiri bale aling-aling berdiri bale rangki untuk menyimpan perlengkapan upacara. Di sebelah kanan berdiri bale gede sebagai tempat pelaksanaan upacara manusa yadnya, yaitu upacara yang berkait dengan daur hidup manusia. Di sisi selatan berdiri bale gedong, tempat tidur anak gadis yang belum menikah dan untuk menyimpan benda pusaka, seperti keris dan tombak, serta barang berharga lainnya. Di sebelahnya ada bale dauh atau bale singgasari sebagai tempat jejaka atau anak laki-laki yang belum menikah.

Bangunan lain adalah bale loji, digunakan sebagai tempat istirahat setelah bekerja dan menjadi tempat menginap tamu ketika berlangsung upacara keagamaan. Bale jineng memiliki tiga bagian: bagian atas digunakan untuk menyimpan padi, bagian tengah untuk istirahat para petani, dan bagian bawah untuk menyimpan peralatan pertanian. Tempat memasak disebut bale poan/pratenan. Pada bagian ini terdapat sanggah pengijeng, yaitu tempat persembahan sesaji kepada Dewa Gede Pengadangan yang dilakukan setiap hari sebelum memulai kegiatan sehari-hari. Di sisinya terdapat patung Moangse, raksasa berkepala singa, dan patung Guakse, raksasa berkepala gagak.

Setiap bangunan puri selalu dilengkapi merajan atau sanggah yang tidak setiap orang boleh masuk. Merajan dikelilingi penyengker. Pintu masuk berupa kori gelung, yang di depannya berdiri patung Duara Kala, terdiri dari Kalan Taka dan Bojan Taka. Di belakang kori gelung terdapat tembok aling-aling sebagai penolak bala agar orang yang masuk ke ruang itu berpikiran suci. Di ruang merajan tedapat bangunan balai piasan, padma sari, rong telu atau sanggah kamulan, sanggah nerurah agung, dan sanggah pangaruman.


Anjungan Riau

Ketika masuk ke dalam kompleks anjungan, pengunjung disambut gapura bercorak khas Melayu, merupakan replika Gapura Istana Kerajaan Riau Lingga. Di sekitaran halaman anjungan diletakkan patung satwa liar, seperti harimau dan beruang, serta sebuah replika Kilang Minyak sebagai gambaran lingkungan alam. Anjungan ini menampilkan empat buah bangunan adat, yakni balai selasar jatuh tunggal, rumah Melayu atap limas, rumah Melayu atap kajang, dan rumah Melayu atap lontik.

Rumah tradisional daerah Riau pada umumnya rumah panggung persegi panjang di atas tiang. Kecuali rumah lontik, detail berbagai jenis rumah adat hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, maupun susunan ruangannya. Rumah lontik atau rumah pencalang beratap agak runcing melengkung ke atas, dinding miring ke luar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Anak tangga rumah ganjil, bahkan rumah lontik selalu beranak tangga lima.

Bentuk tiangnya ada yang segi empat, segi enam, segi tujuh, segi delapan, dan segi sembilan. Tiang utama (tiang tuo) berdiri di sebelah kiri dan kanan pintu masuk—pada suku Melayu kepulauan, tiang utama dinamai tiang seri, berdiri di keempat sudut rumah—terbuat dari kayu besar dan tidak boleh disambung. Semua detail unsur bangunan mengandung perlambang nilai adat ataupun nilai keislaman.

Ruangan dibagi menjadi tiga bagian: selasar atau serambi, rumah induk, dan dapur. Ada tiga jenis selasar, yakni selasar luar, terpisah dari rumah induk; selasar jatuh, bersambung dengan rumah induk tetapi lantainya lebih rendah; dan selasar dalam, menyatu dengan rumah induk. Rumah induk, meskipun tidak disekat dengan dinding pemisah, dibagi menjadi tiga ruang, yakni ruang muka, ruang tengah, dan ruang dalam. Setiap ruang memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan adat.

Balai selasar jatuh tunggal berbentuk seperti rumah adat, berfungsi sebagai tempat musyawarah atau rapat adat, dan bukan tempat tinggal. Ada bermacam nama selasar, tergantung pada fungsinya. Balai selasar mempunyai serambi keliling, lantainya lebih rendah, dan oleh karena itu disebut selasar jatuh.

Semua bangunan adat diberi hiasan, terutama ukiran. Semakin banyak ukiran pada suatu rumah, semakin tinggi pula status sosial pemiliknya. Ragam hias ukiran kebanyakan berpola tumbuh-tumbuhan dan hewan yang digayakan, masing-masing jenis mempunyai nama tertentu, misalnya ombak-ombak atau lebah bergantung, lambai-lambai, semut beriring, itik pulang petang, kalok paku, pucuk rebung, dan sayap layang-layang. Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat ke atas bersilangan, biasanya diberi ukiran salembayung atau sulobuyung. Tiap jenis ukiran mengacu pada lambang atau makna tertentu.

Rumah-rumah adat di anjungan Riau menjadi tempat pameran benda budaya dan seni tradisional. Rumah lontik digunakan sebagai kantor dan perpustakaan, balai selasar jatuh tunggal untuk pameran pakaian adat, termasuk pakaian pengantin. Di kolong rumah atap limas dipamerkan pula jalur atau sampan yang sangat panjang, yang berkait dengan permainan pacu jalur pada upacara adat tertentu, sedangkan di depannya ada ‘buku besar’ berisi syair “Gurindam Duabelas”, mahakarya pujangga Melayu Raja Ali Haji.

Pentas seni seperti tari zapin, ranggam Melayu, dan gozal serta orkes Senandung Riau dilaksanakan pada hari Minggu dan hari libur.

Berbagai tamu negara dan tamu resmi pernah mengunjungi anjungan ini, antara lain Presiden Republik Islam Pakistan beserta Ibu Begum Zia Ulhaq, Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat, Kepala Staf Angkatan Darat Kerajaan Jepang, Sultan Malaysia, dan artis-artis negara Islam.

Budaya-Budaya Indonesia yang diakui DUNIA!!!

Banyak sekali kita mendengar bahwa negara lain meng-Klaim budaya indonesia..bahkan sering pula kita mendengar bahwa terjadi persaingan diantara mereka dengan negara kita. sekarang bukan saatnya kita berdebat, bahkan mengejek dan membalas mereka. saatnya koleksi diri kita apakah kita sendiri melestarikan bahkan mengembangkan, mempelajari budaya kita sendiri??
apakah kita cinta budaya kita sendiri???CINTAILAH BUDAYA KITA....BUDAYA INDONESIA!!!
berikut daftar Budaya Indonesia yang diberitakan di KLAIM oleh negara lain:

1. Wayang Kulit

UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah menetapkan bahwa Wayang Kulit adalah warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika mengungkapkan, sejak 7 November 2003 lalu Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) telah mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Luar biasa bukan ?


2. Keris
United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang merupakan organisasi bidang pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) MENGUKUHKAN KERIS Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. “Dunia telah mengakui keberadaan keris Indonesia, sekaligus mendapat penghargaan dunia sejak 25 November 2005,” kata pendiri sekaligus Direktur Museum Neka Ubud, Pande Wayan Suteja Neka,Kamis (17/7). Menurut org jawa punya keris itu bisa ningkatin kepercayaan diri.

3. Batik

Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya asli Indonesia tidak sia-sia. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) DIPASTIKAN akan mengukuhkan tradisi batik sebagai salah satu budaya warisan dunia ASLI INDONESIA pada Oktober 2009 mendatang di Perancis.

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Tjetjep Suparman di Surakarta, Selasa (2/6/2009). “Butuh waktu tiga tahun untuk pengajuannya,” katanya. Sebelumnya, wayang dan keris juga telah mendapat pengakuan yang sama dari UNESCO beberapa waktu lalu.

“Enam negara yang merupakan perwakilan dari UNESCO telah melakukan pengkajian terhadap budaya batik,” kata Tjetjep. Setelah melakukan kajian serta verifikasi selama tiga tahun, akhirnya terdapat pengakuan terhadap budaya batik sebagai budaya MILIK INDONESIA. “Penetapannya pada 28 September 2009 besok,” kata Tjetjep. Sedangkan pengukuhannya baru akan dilakukan pada 2 Oktober 2009 di Perancis.

Sementara itu, perusahaan swasta produsen film dokumenter asal Malaysia, yakni KRU Sdn. Bhd. telah membuat film berjudul “Batik”. Di situ dijelaskan bahwa batik Malaysia BERASAL DARI BATIK JAWA yang telah didesain menurut kultur Melayu di Malaysia. Begitu pula sejarah datangnya batik Jawa ke negara Malaysia.

Ada satu hal lagi yang lebih penting: MALAYSIA TIDAK PERNAH MEMATENKAN BATIK, karena BATIK MILIK INDONESIA. Yang dipatenkan oleh Malaysia HANYA MOTIF DAN CORAK, BUKAN BATIKNYA. “Kita sudah bicara dengan pihak budaya Malaysia dan mereka katakan tidak pernah patenkan batik. Yang dipatenkan motif dan coraknya,” kata Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Eka A Suripto, Jumat (16/11/2007). Eka mengaku sudah melihat motif atau corak yang dipatenkan Malaysia dan bentuknya berbeda. “Motif Malaysia itu jarang. Kecuali kalau kita bisa buktikan. Dia tidak berani memakai motif batik Solo atau Pekalongan,” imbuhnya.

Walaupun meskipun Malaysia tidak mematenkan batik, pemerintah RI tetap HARUS MEMATENKAN BATIK ke UNESCO – PBB untuk mengantisipasi adanya klaim batik oleh negara asing di masa-masa mendatang. Dan penetapan maupun pengukuhannya rencananya akan dilakukan pada tanggal 28 September 2009 dan 2 Oktober 2009 di Paris, Perancis. Ini semua penduduk indonesia tau dan sadar akan diresmikannya sekarang jadi ngetrend deh di semua kalangan dan berbagai bentuk pakaian.

4. Reog Ponorogo


Pemerintah Malaysia akhirnya mengakui bahwa REOG PONOROGO adalah MILIK INDONESIA. Tetapi, memang kebudayaan tersebut telah disebarkan di Johor dan Selangor oleh masyarakat Ponorogo yang tinggal di Malaysia sejak bertahun-tahun lalu.

“Reog tetap masih MILIK BANGSA INDONESIA,” ujar Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Mohammad Zin dari atas mobil pengeras suara milik pendemo, di depan Kantor Kedubes Malaysia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis, 29 November 2007.

Zainal yang mengenakan baju koko berwarna biru itu, juga menegaskan sejarah berkembangnya Reog Ponorogo yang di Malaysia disebut sebagai Tarian Barongan.

“Sejarahnya rakyat Ponorogo pernah hijrah ke Johor dan Selangor. Anak cucu dari rakyat ini mengembangkan kebudayaan Reog Ponorogo yang mereka bawa dari Ponorogo. Namun, tetap saja asal-usul budaya ini tetap MILIK BANGSA INDONESIA,” paparnya. Kebudayaan 1 ini jg sempet di klaim malaysia tapi akhirnya kita dapatkan kembali.

5. Lagu Rasa Sayang-Sayange

Pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, MALAYSIA MENGAKUI BAHWA LAGU RASA SAYANGE ADALAH MILIK INDONESIA.

Ketua Umum DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Dharma Oratmangun mengatakan, dalam kunjungan ke Malaysia, lahir kesepahaman antara Jero Wacik dan Rais Yatim. “Persoalan lagu Rasa Sayange selesai. Secara de facto, Malaysia mengakui itu milik Indonesia,” kata Dharma pada tanggal 12 November 2007. Ini jg diresmikan karena malaysia ini adalah lagu pertama kita yg diakui oleh dunia internasional

6. Tari Pendet

Untuk Yang Belum :
Perlu diketahui di sini bahwa pemerintah Kerajaan Malaysia TIDAK PERNAH MENGKLAIM Tari Pendet sebagai budaya asal negara tersebut. Iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan Tari Pendet adalah DIBUAT OLEH SWASTA, yakni Discovery Channel yang berbasis di Singapura. Discovery Channel Singapore pun tidak memiliki relasi apapun dengan pemerintah Diraja Malaysia.

Discovery Channel Singapore pun sudah meminta maaf atas kelalaian tersebut dan menyatakan dengan jelas bahwa TARI PENDET ADALAH MILIK INDONESIA, BUKAN MILIK MALAYSIA.

Dengan demikian, Tari Pendet yang muncul di film promosi Enigmatic Malaysia bukanlah promosi wisata Malaysia. Bukan juga diproduksi dan didanai oleh kementerian pariwisata, kementerian kebudayaan Malaysia atau PH Malaysia, tapi dibuat oleh Discovery Channel yang berbasis di Singapura.

DC Asia Inc pun sudah mengakui bahwa kesalahan ada di staf bagian promosi mereka. DC Asia Inc pun sudah menyatakan permohonan maaf atas kesalahan itu kepada kementerian pariwisata Indonesia.

Tuduhan Malaysia telah mengklaim tari Pendet Bali itu tidak benar. Dan DC menyatakan tari Pendet itu milik Malaysia juga tidak benar, yang benar tari Pendet itu memang milik Indonesia dan Bali.

Sekarang udah kelihatan siapa yang bener dan siapa yang tidak. Kita tidak perlu caci maki bikin rusuh. Yang penting adalah bagaimana kita bisa mencintai dan melestarikan budaya kita sendiri sehingga tidak dicuri oleh negara lain.Ini kebudayaan kita yg gk pernah di kalim oleh malaysia dan akhirnya diresmikan karena bener2 budaya asli kita .

kemanakan budaya2 kita yg lainnya? apakah tidak semuanya akan diresmikan? beberapanya adalah lagu bengawan solo ciptaan gesang yg di klaim oleh pemerintah belanda kebanyakan budaya jadi dimintain kali ya terus tari saman yg katanya tahun ini akan diminta untuk diresmikan dan lalu lompat batu nias yg menurut saya keren bgt lalu jg ada musik angklung yg asli dari negara kita dan msh banyak lg budaya2 negara kita yg siap dicuri jika tidak dilindungi.

ANAK INDONESIA...BERBANGGALAH!!!

Hari Anak adalah event yang diselenggarakan pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai tempat di seluruh dunia. Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni, dan Hari Anak Universal diperingati setiap tanggal 20 November. Negara lainnya merayakan Hari Anak pada tanggal yang lain, dan perayaan ini bertujuan menghormati hak-hak anak di seluruh dunia.

Indonesia merayakannya setiap tanggal 23 Juli.

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Berbanggalah anda yang saat ini masih berstatus sebagai anak. Bagaimana tidak? Hari ini sengaja didedikasikan bagi kita, anak-anak Indonesia. Anak-anak yang akan dan sedang membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.

Jadi kita harus bangga menjadi seorang anak...apalagi anak bangsa Indonesia...

Bawalah bangsa kita menjadi Bangsa yang Makmur dan Sejahtera..

Hidup Anak Bangsa Indonesia....MERDEKA!!!

SOEMPAH PEMOEDA (SUMPAH PEMUDA)


SUMPAH PEMUDA....

28 Oktober....masih ingat itu hari apa??SUMPAH PEMUDA!!
yeahhh..tidak lupakan??pastinya dunk~

Sumpah Pemuda mempunyai makna yang sangat mendalam bagi bangsa ini, sumpah pemuda berisi ikrar bersatunya dan disatukannya tunas-tunas bangsa oleh kesamaan tanah air, bangsa dan bahasa. Ini mengingatkan kembali jati diri kita sebagai bagian dari NKRI yang harus senantiasa menjaga dan mempertahankan NKRI dari segala macam tantangan, ancaman maupun krisis.
Sudah saatnya kita harus bersatu dan memperkuat jalinan satu sama lain..semangat mempertahankan Indonesiaaaa..

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928


Versi diperbaharui (Ejaan)

Pertama:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana
  12. Sahardjo
  13. Anwari
  14. Sarbini
  15. Arnold Manonutu
  16. Sarmidi Mangunsarkoro
  17. Assaat
  18. Sartono
  19. Bahder Djohan
  20. S.M. Kartosoewirjo
  21. Dali
  22. Setiawan
  23. Darsa
  24. Sigit (Indonesische Studieclub)
  25. Dien Pantouw
  26. Siti Sundari
  27. Djuanda
  28. Sjahpuddin Latif
  29. Dr.Pijper
  30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  31. Emma Puradiredja
  32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
  33. Halim
  34. R.M. Djoko Marsaid
  35. Hamami
  36. Soekamto
  37. Jo Tumbuhan
  38. Soekmono
  39. Joesoepadi
  40. Soekowati (Volksraad)
  41. Jos Masdani
  42. Soemanang
  43. Kadir
  44. Soemarto
  45. Karto Menggolo
  46. Soenario (PAPI & INPO)
  47. Kasman Singodimedjo
  48. Soerjadi
  49. Koentjoro Poerbopranoto
  50. Soewadji Prawirohardjo
  51. Martakusuma
  52. Soewirjo
  53. Masmoen Rasid
  54. Soeworo
  55. Mohammad Ali Hanafiah
  56. Suhara
  57. Mohammad Nazif
  58. Sujono (Volksraad)
  59. Mohammad Roem
  60. Sulaeman
  61. Mohammad Tabrani
  62. Suwarni
  63. Mohammad Tamzil
  64. Tjahija
  65. Muhidin (Pasundan)
  66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  67. Mukarno
  68. Wilopo
  69. Muwardi
  70. Wage Rudolf Soepratman
  71. Nona Tumbel

Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
    di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
    Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
    Kong Liong.
  2. 2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
    Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
    yaitu :
    a. Kwee Thiam Hong
    b. Oey Kay Siang
    c. John Lauw Tjoan Hok
    d. Tjio Djien kwie

Tim Nasional Sepak Bola Indonesia

m

Julukan : Merah Putih
Asosiasi : Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
Konfederasi : AFC (Asia)
Pelatih : Alfred Rield
Asisten Pelatih : Wolfgang Pikal
Kapten : Charis Yulianto
Penampilan
Terbanyak : Bambang Pamungkas (64)
Pencetak Gol
Terbanyak : Bambang Pamungkas (34)
Stadion kandang: Stadion Utama Gelora Bung Karno
Kode FIFA : IDN
Peringkat FIFA : 137
Peringkat FIFA
Tertinggi : 76 (September 1998)
Peringkat FIFA
Terendah : 153 (Desember 2006)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...